Coklat

Posted by Leila Husna On Jumat, 25 Maret 2011 0 komentar

(Ini tulisan lama yang entah sudah berapa lama menjamur di folderku)

Aku berjalan makin cepat menaiki satu persatu anak tangga E-Plaza, berharap tidak kehabisan tiket Eclipse. Ku tinggal Rendi, mantan kekasihku sejak 2 minggu silam, yang berjalan di belakangku. Aku sengaja menjaga jarak dengannya, aku tidak ingin membuatnya berharap lebih. Bagiku, kalau sudah putus ya putus. Tidak ada lagi balikan atau apapun itu. Seandainya sebulan yang lalu aku tidak berjanji  akan mengajaknya melihat premier film Eclipse pasti saat ini kami tidak akan pergi nonton.
***
“sebulan lagi Eclipse diputer lho!” seruku pada Rendi saat kami sedang makan siang.
“Aku nggak suka Twilight atau apapun itu,” sangkal Rendi. Ia masih berkutat dengan makanan di depannya.
“Hih, aneh kamu. Bagus kali, masa nggak suka??”
“Lha nggak pernah ngikutin dari awal, jadi nggak nyambung kalo ntar tiba-tiba nonton Eclipse.”
“Nggak boleh komentar sebelum lihat! Ntar kalo Eclipse udah nongol di bioskop aku traktir nonton deh, habis itu baru boleh komentar bagus apa nggak. Oke? Hahahaha.”
***
Lamunan masa laluku buyar saat aku melihat seseorang menuruni tangga, persis  di depanku. Ya, dia, cinta pertamaku, cinta monyetku di jaman SD. Mata kami sempat bertemu, ingin aku menyapanya atau sekedar menyulam satu simpul senyum di wajahku, tapi entahlah, sulit rasanya. Dalam sekian detik kami hanya saling menatap dalam bisu hingga akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke perempuan cantik di sebelahnya.  Rasa sukaku ke dia memang sudah lama pupus, namun entah mengapa saat menyadari dia tidak menyapaku….sakit… hanya itu yang ku rasakan.  Dan pikiranku melayang ke masa 5 tahun silam, saat aku dan dia masih duduk satu bangku di Sekolah Dasar.
***
“Ebel-ebel, udah ngerjain PR belum?” Vanno datang dari belakangku, mengagetkanku yang baru datang.
“Hiiih, namaku Bela, bukan Ebel-ebel !!!!”
“Biarin week. Ebel-ebel, ebel-ebel, hahaha,” sambil menjulurkan lidahnya dia berlari keluar kelas, menghindari pukulan kecilku.

Sebenarnya aku tidak marah, justru aku senang saat dia memanggilku dengan sebutan yang berbeda dari yang lain. Hanya saja aku senang menggodanya dengan berpura-pura marah.

Aku sengaja menundukkan kepalaku di atas meja saat dia kembali masuk kelas.

“Ebel-ebel, eh, Bela, jangan marah dong. Maaf yaaa!” pintanya saat menyadari aku terlihat marah.

Aku suka caranya minta maaf, dia tidak pernah lupa menjulurkan tangannya untuk minta bersalaman setiap kali dia berlaku salah.

 Diantara teman sekelas, Vanno memang anak laki-laki yang paling kekanak-kanakan, manja, dan mudah marah. Tapi entahlah, aku justru suka sifat kekanak-kanakannya. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya, yang jelas rasa itu muncul sendiri karena faktor kebiasaan. Ya, aku duduk sebangku dengannya sudah 1 tahun ini. Seperti pepatah Jawa “witing tresna jalaran saka kulino” .

Vanno punya pacar, Nesya, sahabatku juga. Mungkin aku jahat menyukai pacar sahabatku sendiri, tapi siapa yang bisa menolak ketika cinta datang? Cinta monyet lebih tepatnya.

Tidak seperti cara berpacaran jaman sekarang, cara pacaran jaman SD pun masih bisa dibilang sangat sederhana tapi mengena. Hanya surat menyurat tanpa ada ngedate atau apapun itu. Terlebih lagi akulah perantara surat mereka. Sakit memang menjadi perantara kisah mereka, tapi aku nggak mungkin nolak. Mereka berdua sahabatku. Dan seharusnya aku bahagia saat mereka bahagia. Dan mungkin hanya dengan itu aku bisa tetap dekat dengan Vanno. Miris, tapi aku menyukainya.
***
“Bela? Kamu denger nggak sih?” Rendi membuyarkan lamunanku.
“Haa? Iya? Emm sorry, terlalu serius nonton nih. Tuh lagi bagus-bagusnya,” Aku hanya mengeles sebisaku dan aku yakin aku terlihat bohong.
Rendi hanya mengerutkan dahi, dan untungnya dia tidak menyadari sejak tadi aku melamunkan orang lain.
“Emm, mau coklat?” sambil menyodorkan 1 batang coklat.

Coklat. Aku ingat sesuatu…
***
“Bela, lihat! Aku bawa 2 batang coklat!” seru Vanno saat jam istirahat. Hari itu hari Valentine.
“Buat Nesya ya?”
“Iya, buat Nesya 1, buat kamu 1.”
“Serius?? Aaa senangnya, makasih yaa!”

Aku senang lebih dari apapun saat itu. Aku tahu dia memberiku karena dia menganggapku teman, tidak lebih. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Aku tetap senang. Sangat senang.

Aku memasukkan coklat itu ke dalam tas, sedangkan Vanno berjalan menuju tempat duduk Nesya.

“Bel..,” ucap Vanno lirih.
“Lhoh? Kaktanya mau ngasih Nesya coklat? Kok malah balik lagi?” tanyaku heran.
“Emm, nggak jadi,” jawab Vanno pelan hingga aku hampir saja tidak mendengar, “Barusan dia dikasih 2 coklat sama Andi, masa aku cuma ngasih satu? Aku bingung.”

Andi, dia mantan Nesya yang hingga saat ini masih ngejar-ngejar Nesya. Beberapa hari lalu Nesya curhat ke aku kalo dia mulai suka lagi sama Andi dan dia berencana putus sama Vanno dan balikan lagi sama Andi. Mungkin harusnya aku senang karena sebentar lagi Vanno jomblo, tapi nggak, aku marah, rasanya aku ingin memarahi Nesya habis-habisan. Bagaimana mungkin dia segampang itu mempermainkan hati Vanno? Dia beruntung bisa dapet Vanno, kenapa semudah itu dia melepas Vanno?

“Bel, aku boleh pinjam coklatmu? Besok aku bawa 2 juga deh buat kamu. Janji!” bujuk Vanno.
“A-ah? Iyaa. Ini kasih aja ke Nesya. Besok nggak usah bawa coklat nggak papa kok,” sebisa mungkin aku tersenyum di depan Vanno meski batinku nyesek banget, kecewa.
“Kok nggak usah sih?”
“Iya nggak papa nggak usah.”
“Emm, ya udah aku kasih pas kamu ulang tahun yaaa! Kali ini nggak boleh nolak. Oke?”
“Haha iya, oke.”

Empat bulan berlalu, hingga kami lulus SD. Nesya dan Vanno sudah putus, tapi aku dan Vanno masih berteman. Kami bertiga masuk ke SMP yang sama, hanya saja aku lebih beruntung bisa satu kelas lagi dengan Vanno.

Vanno masih Vanno yang aku kenal, dia masih kekanak-kanakan, dia masih sering menggodaku, dan aku pun masih sering berpura-pura marah. Hingga teman-teman baruku mengira ada sesuatu di antara kami. Memang benar aku menyukainya, tapi Vanno? Dia tidak terlihat sama sekali menyukaiku.

“Bel, mintain nomernya Sasa dong!” pinta Vanno saat aku lagi asyik baca novel di kelas.
“Buat apa? Kamu suka Sasa?” entah kenapa pertanyaan pertamaku yang terlontar justru seperti itu.
“Eh? Nggak lah. Dido tuh yang suka sama Sasa. Ayolah, kamu kan dulu waktu SD deket sama Sasa, pasti dikasih deh kalo kamu yang minta.”
“Emm, iya deh iya.”

Aku bergegas ke kelas sebelah. Dan ya, aku mendapatkannya dengan cukup mudah. Aku kembali ke kelas dan berniat memberikan nomer ini ke Vanno sesegera mungkin, tapi nggak jadi, Vanno sedang asyik bermain dengen teman-temannya. “Ah, nanti aja deh kalo udah selesei istirahat,” pikirku.

Aku menghabiskan sisa istirahat dengan 4 sahabat baruku, Riri, Tiara, Sandra, dan Acha. Kami bercanda seperti biasa hingga akhirnya Vanno dan Dido datang menghentikan obrolan kami.

“Bel, gimana? Udah dapet nomernya Sasa?” Tanya Vanno.
“Udah, nih” sambil menyodorkan kertas.
“Eh, kok nggak bersyarat sih Bel? Harus ada upah dong,” sela Tiara sambil menyerobot kertas itu dari tanganku.
“Iyalah, gini aja, syaratnya kamu harus bilang cinta ke….,” belum selesei Riri ngomong tapi udah aku bungkam duluan mulutnya. Aku takut kalimat selanjutnya adalah namaku. Aku nggak mau Vanno tahu kalo aku suka dia. Tapi ternyata sikap saltingku ini malah bikin mereka tahu kalo aku suka sama Vanno!
“Ciyeee…Bela suka sama Vanno!!!” Dido tanpa basa-basi langsung menyimpulkan kejadian tadi. Suaranya melengking, satu kelas melihat ke arahku.
“Ah, nggak kok. Nih Van nomernya,” aku langsung menyerobot balik kertas itu dan buru-buru memberikannya pada Vanno berharap mereka berdua cepat pergi. Aku malu.

Aku lihat muka Vanno, aneh, mukanya merah, tapi ia hanya diam, dan justru tidak terlihat senang. Sekarang terilhat jelas, dia tidak menyukaiku.

“Riri! Kamu apa-apaan sih? Bisa-bisanya ngomong gitu ke Vanno!” rasanya aku ingin marah di depan mereka berempat.
“Lhoh emang kenapa? Kamu sendiri yang salah, kenapa kamu mesti salting dan bungkam mulutku? Aku nggak akan nyebut namamu, aku tadi mau nyebut Ve!” jawab Riri membela diri.
“Ve?” tanyaku polos.
“Iya, Ve, anak kelas lain itu. Vanno kan suka sama Ve, katanya besok dia mau nembak Ve!”

Aku speechless, rasanya aku pengen nangis. Aku patah hati, dan ini pertama kalinya aku patah hati. Dan aku masih harus berpura-pura seperti tidak ada apa-apa, seperti aku tidak pernah menyukai Vanno, seperti Vanno bukan cinta pertamaku, cinta monyetku di jaman SD.

Sejak itu Vanno terlihat menjauh. Tidak pernah lagi dia menggodaku, atu memanggilku “Ebel-ebel”. Mungkin dia tidak ingin memberi harapan lebih padaku, atau mungkin dia ingin menyibukkan waktunya bersama Ve, pacar barunya.
***
“Bel? Gimana? Kok malah bengong? Mau coklat nggak?” lagi-lagi Rendi mengaburkan lamunanku.
“Emm, iya mau,” sambil mengambil coklat dari tangan Rendi.

Aku membuka bungkus coklat perlahan sambil melihat film yang sudah diputar lebih dari setengah bagian. Untung aku sudah pernah membaca novelnya, jadi aku masih bisa mengikuti jalan cerita film yang sedari tadi tidak kuperhatikan.

Aku melumat coklat pelan-pelan, pikiranku melayang lagi ke coklat yang diberikan Vanno. Ulang tahunku sudah terlewat 5 kali tapi tak satupun coklat dari Vanno yang mampir ke mulutku. Dia mungkin lupa, atau tidak sempat, tapi aku masih menunggu. Bukan satu batang coklat, melainkan satu simpul senyum darinya.
***

0 komentar:

Poskan Komentar