Salah Jalan

Posted by Leila Husna On Senin, 23 Juni 2014 0 komentar

Dulu, kami adalah 2 orang asing yang tidak saling mengenal, lalu beranjak menjadi teman, dan berubah menjadi musuh.
Sekarang, kami tidak cukup dekat untuk dikatakan sebagai teman. Tidak cukup jauh untuk dikatakan sebagai musuh. Pun tidak cukup asing untuk dikatakan sebagai 2 orang yang tidak saling mengenal.
Yang jelas, dia pernah ada sebagai orang dibalik layar yang mengubah saya menjadi saya yang sekarang.

...

Setiap orang pasti pernah melangkah di jalan yang salah. Sekecil apapun langkah itu, saya yakin pernah. Yang membedakan hanya lewat pintu mana ia masuk, dan seberapa jauh ia melangkah di jalan yang salah tesebut. Bahkan baru 1 langkah kecilpun kemudian mundur lagi, itu tetap dikategorikan pernah. *Sudah, kali ini setuju saja dengan saya. Saya sedang tidak mau berdebat.*

Demikian pun saya. Ada satu masa dimana saya melangkah di jalan yang salah. Sebuah jalan yang di ujungnya terbentang laut nan indah, yang membuat siapapun ingin bermain air disana. Tapi semakin jauh ia masuk ke dalam air, akan ada ombak yang menyeretnya, menenggelamkannya ke dasar laut, dan tak ada seorangpun yang bisa menolongnya, tentu saja kecuali atas kuasa-Nya.

sumber gambar
Saya sudah berada di ujung jalan itu, lalu berlari-lari kecil di atas pasir pantai. Sesekali kaki ini basah tersapu ombak yang juga menghapus jejak-jejak di atas pasir dan meninggalkan beberapa jejak yang tak terjangkau. Perlahan kaki ini mulai melangkah masuk ke dalam air. Saya tahu ini berbahaya, tapi saya tetap melangkahkan kaki ini ke dalam air. Sebagian orang hanya melihat dan membiarkan saya bermain air. Sebagian lagi membicarakan saya di belakang. Tapi ada satu orang, seseorang yang bukan siapa-siapa, tiba-tiba datang menarik saya keluar secara paksa. Dia bilang saya tidak bisa berenang, dan kalaupun bisa, saya tetap akan terseret ombak dan tenggelam. Dia juga "menampar" saya dengan serentetan kata-kata tajam yang cukup untuk membuat saya membencinya. Saya marah padanya. Sangat. Dia yang bukan siapa-siapa tiba-tiba masuk ke dunia saya dan mencampuri urusan saya, mengatakan apa-apa yang saya lakukan itu salah. Saya tau itu memang salah, tapi saya tetap marah. Dan saya membencinya.

Iya, memang dulu saya sempat membencinya. Tapi tidak sekarang. Malah saya sangat berterimakasih. Sangat amat bersyukur. Melalui dia, Allah mengingatkan saya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.

Tapi semalam. Ada satu kabar yang membuat saya terdiam cukup lama, cukup tidak bisa berkata apa-apa. Dia..dia yang dulu menarik saya keluar secara paksa, entah apa yang ada di pikirannya, dia justru masuk ke jalan itu, masuk ke dalam pantai yang ada di ujung jalan, terseret ombak, dan tenggelam di dasar laut, di laut yang sama yang dulu ombaknya nyaris menyeret saya. Dia...dia yang dulu menyelamatkan saya, kenapa sekarang justru tenggelam di dalamnya? Kenapa dia ya Allah? :'(

Sama seperti mimpi semalam yang membuat saya bernafas lega ketika terbangun karena ternyata hanya mimpi, saya pun berharap kabar itu hanya bagian dari mimpi semalam. Semoga :'

L's

0 komentar:

Poskan Komentar