Adil?

Posted by Leila Husna On Jumat, 21 Januari 2011 0 komentar

Ujian di depan mata, snmptn datang membayang. Jedar jedar jeder. Cepet? Banget! Udah siap? Belom lah! What the.

Hasil try out pertama : Jeder! cukup bikin kaget. Info ujian. Jeder! kaget lagi. Snmptn 100%. Jeder! Kaget lagi. Snmptn undangan. Jeder! Tambah kaget! Hei!! Apa-apaan ini? Kenapa mesti undangan? Lalu untuk anak-anak seperti kami yang selalu mengandalkan keberuntungan mau dibawa kemana? Seperti kata temanku yang misuh di twitter dengan bahasa jawa, kalo di translate kira-kira begini : "Lha kita sekolah di smaga tujuannya biar gampang nyari kuliah, kok malah dipersulit." Setuju! Atau kalimat yang aku ucapkan pada teman sebangkuku "suatu keajaiban kalo pihak sekolah nyasar ndaftarin kita di snmptn undangan. Amin ya Allah, amin" Melihat fakta bahwa hanya orang-orang pintar terpilih yang bisa ikut snmptn undangan, kami hanya pasrah. Adilkah bagi kami??


Kelulusan pake nilai rapor juga? hah kok bisa? lhoh nilaiku jelek. dan blablabla. Itu hanya 1 dari 1000 tanggapan tentang info kelulusan yang mempertimbangkan 40% nilai rapor dll. Nilai, nilai, dan nilai. Sampe kapan sih sesuatu diukur dari nilai? Mungkin nggak sih sesuatu diukur dari usaha? Jarang bahkan hampir tidak ada orang yang lebih menghargai usaha daripada hasil. Sekarang gini, kenapa orang yang tidak jujur dengan nilai tinggi justru lebih dihargai daripada orang yang jujur dengan nilai rendah?? Satu lagi contoh ketidak-adilan di muka bumi.


Kelas para bintang. Pernah dengar? Mungkin untuk siswa bimbel GO pasti tahu. Ya, itu kelas yang isinya orang-orang terpilih yang tentunya terpintar di antara kami. Jadi siswa reguler yang pinter-pinter disaring dan diikutkan tes. Peringkat 1 sampe 5 akan diambil dan dimasukkan ke kelas istimewa yaitu kelas para bintang. Disini mereka yang terpintar akan lebih dipintarkan dengan fasilitas "kelas platinum", les setiap hari, tentor terbaik, dan 1 kelas hanya 5 orang. WOW! Satu lagi contoh ketidak-adilan. Kenapa yang pinter malah semakin dibuat pintar, lalu bagaimana nasib kami (anak-anak yang mengandalkan keberuntungan)?


Beruntung. Satu kata yang hampir tiap habis sholat selalu aku sebut-sebut. Ya, aku ingin jadi orang beruntung.  Tapi tapi tapi, satu fakta yang bikin aku shock yaitu saat ada sekelompok orang pintar sedang berbincang dan satu dari mereka bilang "iih aku sebel banget sama orang bejoo, rasanya aku pengen teriak ke tuh orang : woi kamu bisa sekolah disini karena kamu beruntung! Bukan karena kamu pinter!" Ups! Nyenggol nyawa nih. Dalem banget omongannya sampe nusuk-nusuk di dada (lebai dikit boleh kan??). Rasanya aku juga pengen teriak "woi! Nggak nyadar apa? Ada orang yang masuk Smaga karena bejo lagi dengerin obrolan kalian!!". Keberuntungan : satu keadilan bagi kami yang menjadi ketidak-adilan bagi kalian. Lalu, apa definisi adil yang sebenarnya??

0 komentar:

Poskan Komentar