Jakarta, dari satu sudut

Posted by Leila Husna On Sabtu, 10 Desember 2011 2 komentar

Demi apa, Jakarta itu KERAS!

...

Wow, 3 bulan hidup di Ibukota itu rasanyaaaaa beda banget sama hidup di kota asal. Dari sisi apapun berbeda, bahkan kalo boleh bahas tentang tata krama, hmm rasanya miris melihat anak muda yang dengan mudahnya lewat tanpa menundukkan badan atau paling nggak bilang "permisi", padahal banyak orang tua duduk di bawah. Iya, beda tempat beda tradisi.

Lalu, kita lihat, bagaimana (sebagian) seragam sekolah sudah tidak seperti seragam. Mungkin, bagi saya -yang selama ini sekolah di sekolah yang memperhatikan kedisiplinan seragam- rasanya agak gatel nih mata lihat seragam anak SMA yang seragamnya di-mix sedemikian rupa sehingga tampak tidak seperti seragam. Ok, mungkin bagi mereka itu "gaul", tapi jujur, bagi saya...itu "aneh". (oh, berarti aku yang nggak gaul hahaha)

Lalu lihat, bagaimana lampu lalu lintas sudah kehilangan fungsinya. Bagaimana klakson sudah seperti irama jalanan. Bagaimana pengendara kendaraan tidak ragu-ragu untuk menambah kecepatannya padahal sudah jelas ada penyebrang jalan di depan mereka. Lihat, bagaimana mereka saling berebut jalan. Lihat.

Lalu rasakan! Bagaimana menghirup udara adalah sesuatu yang menyakitkan. Ini realita, bukan melebih-lebihkan. Saya merasakan sendiri bagaimana udara bercampur polusi itu sangat "nyegrak" di hidung (itu ketika saya di dalam angkot menuju suatu tempat untuk mencari peralatan kos). Tidak heran ketika banyak pejalan kaki yang menggunakan masker. Iya, baru pertama kali ini saya melihat pejalan kaki memakai masker karena di daerah asal saya tidak demikian. (atau mungkin ada tapi aku nggak tahu hehe :p)

Lalu lihat! Bagaimana terbentuk 2 area disini. Dari lantai 6 tempat saya mencari ilmu, saya melihat area yang penuh dengan deretan rumah kumuh yang sangat miris dan tidak beraturan. Lalu ketika saya memperluas jangkauan pandang, saya melihat barisan gedung-gedung pencakar langit yang sangat kontras. Dan itu seperti ada batas, batas antara rumah kumuh dan gedung tinggi.

Dan lihat, bagaimana kerasnya orang-orang (yang umumnya pendatang) mencari nafkah untuk bertahan hidup. Lihatlah bagaimana mereka rela mendapat dosa demi sedikit uang.  Tapi lihat juga orang-orang kreatif yang ingin mencari uang dengan cara yang halal. Disini, bahkan alat apapun bisa mereka gunakan untuk mencari uang, seperti yang saya lihat hari ini, sebuat alat tensi untuk mengukur tekanan darah. Bagaimana mereka bisa terpikir untuk berkeliling ke tiap perkampungan sambil membawa alat tensi dan berteriak "tensi! tensi! cukup Rp 3000 setiap satu kali ukur tensi!" ada pula orang yang berkeliling sambil membawa timbangan berat badan dan menawarkan jasa menimbang berat badan. Wow. Jujur, saya baru pertama kali ini melihat penjual jasa keliling yang semacam itu.

Tapi ingat! Jakarta itu tidak hanya sebatas apa yang saya lihat, apa yang saya pikirkan dan apa yang saya tulis disini. Dan mungkin, apa yang saya lihat itu hanya suatu kebetulan yang terlanjur membuat saya men"judge" Jakarta. Iya, saya baru 3 bulan disini dan hanya berkutat di satu wilayah, jadi apa yang saya tulis tidak bisa menggambarkan "the real Jakarta". Tapi terlepas dari semua itu, ini hanya sebuah tulisan tentang "pandangan pertama" saya tentang kota ini, kota yang mereka sebut sebagai ibukota negara.

2 komentar:

Ay Paramudita mengatakan...

Aku juga kalo berangkat kuliah pake masker, hehe :D

@radtyo mengatakan...

selamat datang di ibukota ;)

Poskan Komentar