11

Posted by Leila Husna On Selasa, 14 Juni 2011 0 komentar

"kalo aku masuk IPA, aku sujud syukur sekarang juga", kata Dian.

Dag-dig-dug, rasanya tidak tenang menunggu rapot kenaikan kelas. Begitu Ibuku keluar dan memberitahuku bahwa aku masuk IPA, wow great, seneng banget banget banget :')
***

"Leeeeel, kita sekelaaaaas, ntar duduk bareng yaa :D"
Aku belum lihat daftar nama kelas sih sebenernya, tapi berhubung Dian udah ngasih tau kalo kita kelas sebelas ipa sepuluh ya udah deh aku nggak ikut berdesak-desakan rebutan liat daftar pengumuman yang dipajang di depan gerbang belakang. Begitu udah sepi, baru deh aku liat. Kali ini lumayan, aku sekelas lagi sama Dian, Rista, dan Riza alias Pengki.

Hari pertama, aku kira bakal lancar-lancar saja, hingga masalah yang aku pikir sebuah masalah kecil justru menjebol pikiranku selama beberapa hari. Aku pikir punya kelas baru itu nggak masalah selama aku punya temen sebangku, yaah yang penting kan aku nggak akan suwung, paling nggak ada lah temen ngobrol. Eh nggak taunya si Rista dateng dan bilang kalo dia juga bakal duduk dengan Dian.
Rista : kamu duduk sama siapa lek? (lihat! namaku jadi "lek" -____-)
Aku : Dian, kamu?
Rista : Lho Dian sama aku
Aku : Lho, piye tho, aku jadi bingung, ya udah lah dibahas ntar aja, gampang. (waktu itu kita lagi jalan menuju kelas)
Rista : Mungkin menurutmu ini sepele, tapi aku udah ngrasain setahun nggak punya temen sebangku dan itu nyiksa banget, dan aku nggak mau kalo nggak punya temen sebangku lagi! *berbalik, lalu jalan cepat meninggalkanku*
*jleb!* sumpah kaget banget waktu Rista alias nenek bilang gitu, oh my God, belum apa-apa udah muncul masalah, hah apa yang harus aku lakukan? T.T

Nenek nyampe kelas duluan, otomatis dia duluan yang dapet tempat di sebelah Dian. Okey nggak papa, yah kasian juga kalo dia harus sendiri lagi, mungkin ini jalan terbaik supaya aku mengenal yang lain, kan kalo duduk sendiri otomatis harus sok kenal sama yang lain biar punya temen ngobrol.

Duduk sendiri ternyata nggak terlalu suwung, apalagi teman sebangku-ku jadi beragam, mulai dari Ais, Ira,  Aziz, dll. Yah pokoknya siapa aja yang mau duduk sebelahku ya silahkan. Sampe-sampe baru beberapa hari masuk eh aku udah bisa ngobrol sana-sini, Dian aja sampe bilang "sangar no lel, koncomu wes akeh" aku cuma senyum :)

Beberapa hari kemudian, si nenek (Rista) sakit dan nggak masuk beberapa hari, nah Dian langsung duduk di sebelahku. Begitu nenek masuk eh Diannya nggak tau kenapa nggak mau pindah, tetep duduk sama aku. Sebenernya nggak enak sih sama nenek, tapi ternyata dia dapet temen sebangku kok, si Ais. Ya udah deh, yang penting dia nggak bakal ngrasain nggak punya temen sebangku :) Eh tapi masih ada 1 hal yang bikin aku pengen menggelonggong Rista, berkat keeksisannya (eksis disiksa) dia berhasil membawa pengaruh nama Le'e di kalangan kelas sebelas ipa sepuluh, alhasil mereka semua memanggilku "Lek" ! Awas kau NENEK!!!! -___- 

Aku dekat sama hampir separuh penghuni kelas, aku pikir semuanya akan membaik, dan aku pikir aku akan mendapatkan teman yang kompak seperti kelas sepuluh-ku. Tapi aku salah. Hari-hari ku di kelas sangat tidak menyenangkan. Terbentuk kubu dan kelompok. Kami menyebutnya keluarga cendana dan keluarga cikeas. Mereka "cendana" dan kami "cikeas". Oh iya satu kubu lagi, kubu lelaki. Anak cowok di kelasku erat banget, kompak, saking kompaknya kalo telat ya telat bareng grudukan bersebelas, cuma Aziz satu-satunya cowok yang nggak ikut dalam kubu "lelaki". Tapi kubu "lelaki" lebih prefer ke keluarga "cendana" daripada ke keluarga "cikeas". Hah, bisa dibayangkan seberapa dinginnya kelas kami? Aku dan Dian selalu mengeluh dan kami selalu membandingkan keadaan kelas sebelas dan kelas sepuluh, beda banget :( Okey, emang kami punya keluarga "cikeas" yang beranggotakan lebih dari separuh kelas, tapi tetep aja kelas kami didominasi oleh keluarga "cendana". Dan itu juga yang bikin kami nggak betah.

Aku inget banget waktu 2 dari anggota "cendana" mengatakan secara terang-terangan bahwa mereka "kelas atas"
X : Eh liat deh, kelompok bahasa Indonesia kita (sambil menunjuk papan tulis) isinya "kelas atas" semua ya hahaha.
Y : Wah iya ik
DP : HEH DENGER YA, semua itu sama! Nggak ada kelas bawah kelas atas! (Kebetulan namanya DP dan Chacha juga tercantum di kelompok Bahasa Indonesia mereka. Mungkin mereka juga  menganggap DP dan Chacha kelas atas, padahal DP dan Chacha dari keluarga "cikeas")

Wah aku dan Dian langsung mesam-mesem dengerin DP yang langsung frontal blak-blakan. Itu sungguh mewakili aspirasi kami sebagai "kelas bawah".

Oh iya, nama kelas kami TOP ELEVATOR yang merupakan kepanjangan dari The Outstanding People of Eleven A *read: ipa* Ten Corporation. Selanjutnya aku akan menyebut sebelas ipa sepuluh dengan "elevator"

Hubungan kami sangat tidak harmonis, emang sih keluarga cikeas semakin kompak, keluarga cendana + kubu lelaki juga semakin deket, tapi antara keluarga cikeas, cendana, dan kubu lelaki sama sekali tidak ada kedekatan. yah kalo pun deket paling juga deket sesaat, selanjutnya saling membicarakan di belakang.

Klimaksnya saat di BALI. Ini benar-benar puncak ketidakbahagiaan. Oh God, kata orang kelas tengah alias kelas sebelas itu yang paling berkesan, dan kata orang piknik ke Bali bersama kelas sebelas itu membahagiakan, tapi APA?? Yang aku alami tidak seperti itu T.T

Belum sampe BALI, baru di bis thu lhooo udah nyebelin banget. Masak pas di bis mereka berisik banget sampe kita nggak bisa tidur, eh begitu mereka tidur ya kita bales aja kita berisik sepuasnya eh mereka langsung bilang "sssst" rame-rame  -_____-

Banyak banget ketidakadilan dan ketidaknyamanan yang kami rasakan, ya aku nggak tau apa mereka juga merasakan yang kami rasakan, aku juga nggak tau apa mereka merasa terganggu terhadap kehadiran kami seperti halnya kami merasa terganggu atas kehadiran mereka. Intinnya aku benar-benar kecewa kenapa aku ditakdirkan masuk kelas #elevator. Tapi untungnya masih ada cikeas yang bikin semangat sekolah, ada juga 4  orang yang lumayan deket sama aku, Dian, Ismi, Dewi, dan Ira. Kalo nggak ada mereka, pasti.....AKU PENGEN PINDAH KELAS!
***

Aku pikir cerita kelas sebelasku akan berakhir benar-benar buruk. Hey, apa kalian pikir juga begitu? Apa kalian pikir aku akan mengeluh sepanjang postingan ini? Tidak. Lebih baik aku tidak menulis post berjudul "11" dan langsung loncat ke post "12" jika isinya hanya seputar mengeluh, mengumpat, dan menyesal.

Tuhan menakdirkan kami menjadin bagian #elevator, dan Tuhan menyiapkan kejutan untuk KAMI. KAMI SEMUA, tidak aku tidak mereka tapi KAMI THE TOP ELEVATOR.

Rencana Tuhan itu berawal dari tugas drama bahasa Inggris yang diberikan oleh Mrs.Chriss

Waktu itu keluarga "cendana" + kubu  lelaki sedang ada masalah dengan salah satu anggota mereka, sebut saja pohon. Aku nggak tau mereka ada masalah apa sama si pohon, tapi yang jelas karena kejadian itulah akhirnya si pohon yang notabene salah satu orang "berpengaruh" di kelas dijauhi sama cendana + kubu lelaki. Cikeas sih nggak ikut-ikutan musuhi pohon, toh kita dari dulu emang nggak suka sama mereka semua termasuk si pohon. Dan gara-gara pohon nggak punya temen akhirnya dia jadi mau bergaul sama kita. Perilaku cendana + kubu lelaki juga lebih baik ke cikeas sejak mereka memusuhi pohon, entah deh kenapa.

Tugas drama bahasa Inggris, si pohon nggak dapet kelompok, dan nggak ada yang mau sekelompok sama dia, akhirnya dengan sakpenake dewe si pohon dimasukin ke kelompok-ku dengan alasan karena kelompok-ku anggota cowok-nya paling dikit. What the! -____-

Tugas drama-ku tentang snow prince. Snow white yang kami ubah. Snow white-nya itu cowok, seorang pangeran yang punya ibu bapak tiri, yang iri dengan kecantikan ketampanannya. Nah yang jadi bapak tiri yang jahat itu adalah si pohon. Dan pas hari H, secara mengejutkan se-isi kelas mengikuti dialog kami, yaitu pada scene saat bapak tiri jatuh tersungkur kalah dan akan dibunuh oleh pangeran, lalu kurcaci menyoraki "kill him! kill him!" dan mengejutkan ketika se-isi kelas ikut bersorak "kill him! kill him!" Dan begitu narrator bilang "and they lived happily ever after" aku pikir itu awal mula "kebahagiaan" di kelas kami :')

Entahlah, tapi itu terjadi. Kelas kami berangsur-angsur kompak, yah meskipun itu cukup terlambat untuk sebuah kekompakan kelas karena waktu kita tinggal sebulan lagi menuju tes kenaikan kelas. Tapi itu berharga. Sangat berharga. Ngerjain Bu Widi, kakak kami yang merangkap jadi guru biologi yang sedang berulang tahun, dan untuk pertama kalinya ada kue tart di kelas kami. Ulang tahun Ira, itu perayaan pertama yang mengawali kedekatan kami, yah meskipun masih ada jarak, tapi itu lumayan untuk sebuah awal yang baik. Perlombaan classmeet, perlombaan terakhir yang sangat berarti. Untuk pertama kalinya kami kompak menyuporteri setiap perlombaan, untuk pertama kalinya yel-yel elevator begitu membangkitkan suasana, dan untuk pertama kalinya kami memenangkan juara satu, 3 on 3 basket cewek :D

Pembahasan perpisahan kelas. Begitu kompak, saling support, kalo ada yang nggak bisa ikut kita langsung ambil tindakan, pokoknya harus ikut semua!

Aku seneng banget, I LOVE ELEVATOR, aku sangat bangga mengumandangkan itu. Aku bener-bener nggak menyesal sama sekali masuk kelas #elevator. Dan tepat hari H perpisahan, ke Jogja waktu itu, itu adalah saat terindah bersama #elevator. Kebahagiaan yang nggak kami rasakan waktu ke Bali dulu pun akhirnya terbayar pada perjalanan ke jogja (kami menyebutnya JOGJAVATOR, Jogja-nya Elevator). Kali ini bener-bener nyatu. Nyanyi bareng, guyonan bareng, ngusilin orang di jalan bareng, di gelonggong bareng (eh??) pokoknya menyenangkan aaaaa :D

Di Jogja kami nginep di rumah Vanes, dan malemnya......acara pengakuan pun tiba. Kali ini kita blak-blakan dalam hal apapun, termasuk benci dan cinta *ceileh* haha tapi emang bener kok, disini pada ngungkapin kekesalannya tentang kubu-kubu di kelas dan nggak sedikit yang ngaku suka sama siapa ehem hihihihi.

Ah elevator memang kenangan yang paling unik, segala macam rasa ada disana. Menyenangkan. kadang sedih, kenapa sebulan terakhir kita baru deket, kenapa nggak dari dulu, tapi mungkin itu emang jalan supaya lidah kita nggak melulu dapet rasa manis, ada kalanya asam, asin, dan pahit itu menjadi pelengkap, sebagai pembelajaran untuk masa depan :)

Aku nggak nyesel menjadi bagian keluar besar TOP ELEVATOR. Thanks God, rencana Tuhan emang paling indah :')


E   to the L   tho the E-V-A   T-O-R! 
Who is the best? WE ARE!
Who is the best? WE ARE!
Who is the best? Who is the best? Who is the best? WE ARE!
Go ELE! Go VATOR!
ELEVATOR?? HUYEEEE!!!
Elevatooooor??? TOP!
-yel yel kebanggan kami-

ini awal-awal, masih cupu abiss

ultah NADIRA

sok imut *hoek


Jogjavator :')
Kalo boleh meminta, kami ingin disatukan lagi di kelas 12. Tapi apa daya, Tuhan punya rencana untuk kami :) Rencana yang jauh lebih indah dan mengejutkan. Bukankah begitu? ;)


Sebelumnya :


Post lawas tentang #elevator ala Vanessa :

0 komentar:

Poskan Komentar