Jika Aku Menjadi PCL – Closing #Episode7

Posted by Leila Husna On Selasa, 27 Mei 2014 0 komentar


...

2 Mei 2014

Sepanjang perjalanan di bis dari pelabuhan menuju Otista, aku tidur lelap seperti biasa, nggak usah heran lah ya. Jam 4 pagi kita udah sampe di depan STIS. Dengan mata masih sayup-sayup, turun dari bis dengan menenteng koper dan sekresek besar keripik pisah, duh malu juga. Perjalanan pulang kali ini terbilang cepat, jika dibanding dengan bis lain yang bahkan ada yang baru sampe STIS ketika matahari udah bersinar terang.

Selama jalan kaki 5 menit dari STIS ke kos, bayanganku udah kasur, kasur, dan kasur. Mata udah nggak kuat pengen merem lagi. Pengen rebahan, pengen tidur pokoknya. Semuanya masih baik-baik saja, hati masih riang gembira, sampai tibalah di satu momen, tepat disaat membuka pintu kamar kos. Deg. Selama 1 menit cuma bisa berdiri di depan pintu tanpa berkutik untuk beranjak walau 1 langkah pun. Ini nggak salah kamar kan ya?

Aku berjalan perlahan, menyusuri setiap sudut kamar kos. Mataku langsung tertuju ke kasur. Sprei merah muda yang berubah warna menjadi kuning seperti bekas air yang mengering. Di sudut ruangan ada tumpukan 3 kardus didalamnya berisi buku dan di atas kardus juga ada buku, catetan, dan segala macemnya. Aku pegang buku-buku itu, dan basah. Aku lihat tumpukan catatan dan dokumen di sebelah printer, basah juga. Kertas IP, sertifikat-sertifikat, fotokopian KK, Ijazah, basah dan mblobor semua. Aku perhatikan printerku. Kardus di bawah printer udah letoy kayak habis kebanjiran, kertas yang ada di dalam printer juga basah, foto keluarga yang ku taruh di atas printer udah mblobor, lalu printerku? Langsung lemes. Aku cek daerah alat tulis, dan di dalam gelas tempat alat tulisnya pun ada airnya. Sarung flashdisk-ku mblobor, kalo gitu berarti flashdisknya? Makin lemes. Aku buka kardus setrika, dan alas setrikanya udah nempel sama kardusnya yang basah. Makin makin lemes lagi.

Kamar yang tadinya ku tinggal dalam keadaan rapi tiba-tiba berubah jadi kapal pecah. Berserakan buku-buku dan kertas-kertas basah dimana-mana. Detik itu juga rasanya pengen nangis. Kamarku.. 2,5 tahun aku tinggal disini, nggak pernah sama sekali kerembesan air, eh begitu ku tinggal 12 hari ke Lampung malah kerembesan T.T

Badan rasanya udah bener-bener nggak karuan, capek badan, capek pikiran. Aku singkirin semua buku yang ada di atas kasur. Sebodo amet mau jadi apa buku dan alat elektronikku nanti. Yang terjadi nanti biarlah terjadi nanti. Aku mau tidur. Titik. Dan akhirnya aku bener-bener tertidur di atas sprei merah muda yang menguning dengan buku-buku basah di sekitarku. Bisa gitu ya? Nyatanya bisa. Nyenyak pula -__-

Bangun-bangun, lihat ke sekeliling. Sepi. Berantakan. Nggak ada Nia. Nggak ada dek Rinka. Nggak ada suaranya Kak Ray dan Risky yang teriak-teriak ngebangunin kita dari luar. Iya, tiap pagi biasanya selalu begitu. Biarpun sebenernya aku sama Nia udah bangun, kita sengaja pura-pura tidur di dalam kamar biar kak Ray ngomel-ngomel. Padahal pas kak Ray ngomel-ngomel, aku sama Nia malah jogetan di dalam kamar sambil tertawa tanpa suara. Kalo kak Ray makin ngomel, kita makin puas hahaha. Itulah kenapa kita panggil kak Ray dengan sebutan Ibu atau Bu Mun (Mun dari kata Mundus, Raymundus). Karena biasanya yang ngomel-ngomel pagi-pagi itu Ibu-Ibu, muahaha. Tapi sekarang itu cuma sebatas memori. Kenyataannya aku sekarang disini, sendirian, di dalam kamar yang berserakan buku-buku basah.

Seharian ini aku cuma tiduran, beres-beres kamar yang baunya udah nggak karuan naudzubillah, tiduran lagi, dan begitu seterusnya. Makan? Sama sekali nggak tertarik. Seharian ini cuma makan satu kali. Heran? Sama. Aku juga heran kenapa seorang Leila nggak tertarik makan :| Entah ya, mungkin karena masih shock, trus capek, ditambah lagi karena kangen masakan Bu Kesmi. Iya, biasanya ke dapur udah ada makanan. Tapi sekarang harus keluar nyari makan sendiri. Ah, kangen sama Bu Kesmi. Kangen sama suara beliau.

"Ayo makan, makan kok harus disuruh-suruh dulu"
"Nggak makan lagi? Ibu nggak pernah ngebatasi kalian makan 3 kali. Kalian mau makan 4 kali atau 5 kali pun juga nggak papa, nggak usah malu-malu"
"Besok Ibu mau masak ini, kalian doyan nggak?"

Dan ada 1 kata-kata yang selalu Ibuku tanyakan tiap kali pulang kampung, tiba-tiba disini denger kata-kata itu lagi dari Bu Kesmi. "Kalian pengen makan apa? Duh masakan apa lagi ya yang belum Ibu masakin buat kalian?" Tepat disaat bu Kesmi bilang begitu, aku langsung inget sama Ibuku yang selalu tanya "Lela pengen makan apa? Makanan apa lagi ya yang belum Ibu masakin?" :') berasa pulang kampuuuung.

Atau saat bu Kesmi terus-terusan beliin kita camilan, pempek, es krim, coklat, dll, lalu aku sama Nia protes ke Bu Kesmi "kok dibeli-beliin terus bu?" dan bu Kesmi menjawab "Nggak papa, kapan lagi Ibu makan-nin kamu-kamu ini" Nyesss, Ibu.... :'

Bahkan setelah aku udah sampe Jakarta pun bu Kesmi masih sms "jangan lupa makan, biar maghnya nggak kambuh lagi" Duh Ibu.... Bener-bener ngerasa punya 2 Ibu sekarang (3 Ibu kalo Bu Mun diitung). Nggak sabar pengen cerita panjang lebar ke Ibuku tentang betapa baiknya Bu Kesmi. Pasti Ibu akan cemburu, tapi rasa syukur Ibu pasti jauh lebih besar :'D

Ngomongin masalah makan, jadi inget salah satu kejadian ini :
Risky : Ini sayur apa ya yang diluar tudung saji?
Aku : Nggak tau, ambil aja
Risky : *menuangkan sedikit sayur dan banyak kuah ke dalam piring berisi nasi* ini seriusan masih enak kan ya sayurnya? Kok ditarus diluar gini? Cobain dong le
Aku : Enak, enaaaaak. Nggak mau ah, coba aja sendiri
Risky : Ih cobain laaaah
Aku : Ya udah, sini. *nyobain sesendok kuah* *langsung berlari menuju wastafel* hoeeek
Risky : Kenapa le? Basi?
Aku : Bukaaan. Ini bukan sayur, ini rendaman sayur mentaaaaaaah! Aaaaa, mulutku terkontaminasiiii *heboh*
Risky : Nasiku lebih terkontaminasi le. Ini aku ambil kuahnya banyak banget :(
Nia : Dimakan pakdee. Jangan dibuang, ntar dikira Bu Kesmi kamu nggak doyan masakannya.
Leila : Iya, dimakan tuh
Risky : Tapi...tapi... *pada akhirnya dimakan juga dengan muka masam wakakaka*
Pelajaran hari itu : jangan makan makanan apapun diluar tudung saji.

Ah kalo inget kejadian-kejadian di Lampung, antara pengen ketawa dan sedih juga karena sekarang kita udah tinggal masing-masing. Udah nyoba nonton chibi maruko chan pun rasanya beda. Tetep lucu sih, tapi kalo nontonnya nggak sama tim 46 itu kayak ada yang kurang :| Yah, tapi mau gimana lagi, pada akhirnya semua cerita tentang PKL 53 tinggalah kenangan yang nggak akan mungkin untuk diulang. Tapi semua bertambah. Yang tadinya nggak ada cerita, tiba-tiba ada cerita. Yang tadinya nggak saling kenal, sekarang jadi kenal dan udah kayak keluarga kedua. Yang tadinya Ibu cuma 1, sekarang nambah 2. Bapak juga nambah 1. Pakde nambah 1 juga (Si Risky. Kenapa? Karena dia selalu manggil aku sama Nia dengan sebutan "nduk" udah kayak orang tua, dan saat nyacah dia sering banget dipanggil "om" sama responden, beda sama aku dan Nia yang selalu dikiran anak SMA, hihihi). Nambah 1 mbak juga (si Nia. Kenapa? Karena dia lahir 5 hari lebih cepat dari aku). Nambah 3 sodara juga : mbak Meda, mas Krisna, sama dek Rinka. Dan 1 ponakan yaitu si Heni, yang tingkahnya selalu jadi sumber kontaminasi kita. Ah, kangen sama masa-masa itu. Duh ketauan deh, masih belum bisa move on dari PKL :3

Terlepas dari semua itu, lagi-lagi kenyataannya aku sedang sendiri disini, di dalam sebuah kamar dengan buku-buku dan kertas-kertas basah berserakan. Printer? Alhamdulillah setelah dicoba ternyata nggak kenapa-napa. Setrika, flashdisk, dan perangkat elektronik lainnya alhamdulillah masih bisa. Tapi ada satu barang yang terlewat di cek dan baru sadar rusak begitu mau dipake. Modem. Iya, aku baru sadar ternyata modemku rusak tepat setelah aku isi pulsa 70ribu. Nyesek? Banget. Tapi ya udahlah. Dibanding dengan semua nikmat mulai dari awal PKL sampe PKL selesei, cobaan modem ini nggak ada apa-apanya dan nggak seharusnya menghancurkan mood yang udah tumbuh dengan sangat amat baik selama PKL :) 

Dan sayangnya, cerita tentang PKL pun berakhir disini (eits belum deng, masih ada pengolahan dll mehehe. cerita tentang menjadi PCL maksudnya hehe *diprotes anak pengolahan*). Tapi cerita tentang kami, tim 46, belum berakhir, dan semoga tidak akan berakhir. Insya Allah, aamiiiin :)

Terima kasih untuk Bu Mun, Pakde, sama Mbak. Tanpa kalian, nggak akan ada cerita se-gila ini :D
Terima kasih untuk Pak Kesmi, Bu Kesmi, mas Krisna, mbak Meda, dek Rinka, dan Heni. Semoga kebaikan Bapak dan sekeluarga dibalas oleh Allah, aamiiin :)
Dan terima kasih untuk kalian yang mau-maunya ngebaca cerita sepanjang ini. Terima kasih sudah menjadi back-up memori kami :)

dari kiri ke kanan : kak ray - nia - aku - risky
sumber gambar


Cerita ini bukan fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu bukan kebetulan semata dan memang ada unsur kesengajaan. Dan jika ada aib yang terbongkar mohon dimaafkan :)
Ya puuun.

- The End -

L's

0 komentar:

Poskan Komentar