Subseksi Kuesioner

Posted by Leila Husna On Selasa, 13 Mei 2014 0 komentar

Sebenernya banyak yang pengen aku ceritain tentang seksi ini. Tapi entah karena faktor umur atau karena ketumpuk memori baru, jadi ingatan tentang seksi ini agak samar-samar, musti diterawang lebih dalam sepertinya. Hm, okay, let’s “menerawang”... balik lagi ke bulan Januari!

...

Jaman masih muda dulu, jaman-jamannya baru masuk seksi ini, tepatnya di subseksi Kuesioner, banyak banget muka baru bertebaran dimana-mana, bahkan nama-nama yang tertera di daftar aja terdengar asing. Ini entah akunya yang kelewat ansos, atau gimana, udah menginjak tahun ketiga tapi kayak orang baru keluar dari goa, nggak kenal siapa-siapa. Parah ya? Bangeeet. Apalagi begitu dibagi kelompok, duh satu pun nggak ada yang kenal. Bayangin nih ya, belum ada tatap muka, tapi kita udah dikasih tugas kelompok, sedangkan orangnya yang mana aja kagak tau. Aku cari semua namanya di facebook dan ternyata nggak ada satupun yang friend-nan sama aku. *Makin bertanya-tanya, selama ini aku hidup di goa mana*. Nah, udah tuh ku add satu persatu. Tapi nggak ada yang confirm, bahkan sampai deadline tugas habis pun nggak ada yang confirm -____- Alhasil aku berangkat rapat perdana dengan tanpa mengantongi tugas, semetara beberapa kelompok ternyata udah ada yang ngumpul + ngerjain tugas kelompok mereka. Wiih supeeer.

Rapat-rapat selanjutnya nggak jauh-jauh dari yang namanya membedah kuesioner yang berkaitan dengan sektor informal. Entah udah berapa kali kita bolak-balik membedah kuesioner dari awal lagi karena ada perubahan judul dan tujuan dari PKL, hmm.

Pernah kita dapet tugas kelompok untuk nyusun pertanyaan-pertanyaan tentang indikator “pekerja rumah tangga” yang notabenenya belum fix, bahkan konsep dan definisinya aja belum ada. Disitu kita udah debat panjang segalam macem, udah ribet nyari kondef dari berbagai sumber, dan tepat ketika kita udah selesai nyusun pertanyaan, aku dapet sms dari salah satu anak AB12 (Seksi Analisis Bab 1 dan 2) kalo indikator “pekerja rumah tangga” nggak jadi ada. Rasanya itu ya…hm…meja mana meja..tiba-tiba laper pengen makan meja.

Pada rapat-rapat terakhir, kami dibagi menjadi 2 tim besar. Tim Kuesioner Usaha, dan tim Kuesioner Pekerjaan. Timku dapet yang bagian Kuesioner Pekerjaan. Tugas kita adalah ngoreksi Kuesioner Pekerjaan yang udah tersusun. Emang kerjaan paling gampang itu nyari-nyari kesalahan ya, semudah itu kita nyoret-nyoret kuesioner, ini salah, itu salah, nggak mikir setelah ini anak Layout (yang cuma 3 orang) mesti kerja rodi ngatur layout ulang, mehehe, salam damai ye anak layout ^^v

Di hari-hari yang kami pikir udah bebas tugas, tiba-tiba ada perubahan konsep yang paling dasar, yaitu konsep usaha dan pekerjaan. Perubahan yang terhitung fatal karena harus ngebongkar ulang kuesioner-kuesioner yang ada. Dan mungkin karena perubahan yang mendadak, deadline yang mendadak, bertubi-tubi pula, jadi pembongkaran kuesioner dihandle sama koor-koor kuesioner. 

Setelah kuesioner fix, ada lagi kegiatan yang namanya Uji Coba Kuesioner untuk mengecek apakah pertanyanan-pertanyaan yang ada sudah applicable atau belum di lapangan. Lokasi Uji Coba yang pertama nggak jauh-jauh, masih di sekitaran kampus, tepatnya di Bonasel, sedangkan  lokasi Uji Coba yang kedua langsung di Lampungnya. Dan aku ikut uji coba yang di Bonasel dengan beberapa anak kuesioner lainnya. Kita mencacah di beberapa rumah warga yang sebelumnya sudah dilisting oleh seksi Metodologi subseski Listing. Saat mencacah di lapangan ternyata ada beberapa pertanyaan yang nggak applicable dan beberapa pertanyaan yang urutannya harus diubah untuk memudahkan petugas pencacahan. Daaan lagi-lagi anak layout jadi korban :p

Setelah uji coba kuesioner ternyata ada instruksi perubahan, lagi, dan lagi. Tapi entah, nggak pernah ada rapat lagi setelah itu, mungkin karena tiap hari ada perubahan kali ya, jadi nggak sempet ngumpulin seluruh anak subseksi kuesioner yang sejumlah 40 orang, makanya langsung dihandle sendiri sama koor. Begitu Pelatihan Petugas, pangling sama kuesionernya, udah beda aja ternyata, bedaaaa bangeeet malah, merasa cukup asing dengan kuesioner sendiri, wow. Standing applause lah ya buat koor, ngebongkar kuesioner sedemikian rupa, yang pastinya nggak cuma sekali dua kali bongkar tapi berkali-kali bongkar. Nggak kebayang gimana stresnya ngebongkar susun kuesioner tiap hari, wih super Agustiiin.

L’s

0 komentar:

Poskan Komentar