Jika Aku Menjadi PCL – Hari Terakhir #Episode6

Posted by Leila Husna On Senin, 26 Mei 2014 0 komentar


...

1 Mei 2014

"Pagi ini...pagi terakhir bagi kita ~"
Entah kenapa dari semalam berdenging lagu itu mulu di kepala. Duh, sedih. Pada akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana kita akan dideportasi ke Jakarta :|

Sebelum pulang, kita jalan-jalan dulu ke Ono Harjo. Bukan jalan-jalan sih sebenernya, mau pamitan sama kepala dusun, sama bu carik, dan sama bapak angkatnya Nia. Sayang bapak angkatnya Nia nggak ada di rumah, jadi nggak ketemu deeeeh.

Di rumah kepala dusun, kita minum teh panas lagi cuy, kali ini kita bener-bener liat dengan mata kepala sendiri bagaimana air yang baru saja mendidih di atas kompor langsung dituangkan ke gelas berisi daun teh :o Lomba minum teh panas lagi untuk kesekian kalinya ~

Pulangnya, kita mampir beli es krim (lagi) dan beli lem untuk ngelem 2 sepatu yang jebol (lagi) -___-
ngeskrim lagi ~
Setelah makan es krim, kita langsung pulang ke rumah. Selama perjalanan, nggak ada hentinya mata ini merekam setiap sudut jalan dalam ingatan. Entah kapan kita akan kembali kesini. Mungkin peluangnya cuma 0,0000 sekian persen. Ah, sedih..

Sampai di rumah, kita beres-beres. Membereskan apa-apa yang belum beres. Koper dan eiits, dokumen jangan lupa cuy. Harta benda kita yang paling berharga saat ini. Bisa nangis berjamaah kalo sampe ketinggalan.
kardus "46 Ray", berisi kuesioner, peta, dll
harta benda paling berharga
Setelah semua beres, kita pamitan sama pak Kesmi sekaligus menyerahkan uang akomodasi dll. Pak Kesmi awalnya cuma diem sambil memegang amplop. "duh gimana ini ya, hmm". Kita udah deg-degan, duh jangan-jangan kurang nih. Makin deg-degan saat pak Kesmi membuka amplop, mengeluarkan uangnya dan lagi-lagi bilang "duh gimana ini ya, hmm". Ampuuun, firasat udah nggak enak ni. Tapi semua firasat itu sirna ketika pak Kesmi mengambil beberapa lembar uang yang ada di amplop lalu mengembalikannya ke kami "Ini, buat beli minum kalian nanti di jalan" *speechless*. Mau bagaimanapun kita tolak, pak Kesmi tetep nggak mau nerima uang itu dan dikembalikan ke kita.

"Kalian ini udah Bapak anggap anak sendiri. Bapak juga sedih kalian mau pulang. Tapi Bapak yakin, nanti InsyaAllah, kalau memang kita ditakdirkan untuk bertemu, kita akan bertemu lagi. Entah disini atau dimana, bahkan mungkin saat kalian udah jadi orang sukses."

Nyessss, pengen nangis :'( Nggak nyangka seperti itulah perasaan pak Kesmi ke kami :'

...

Jam 2 siang, kita dijemput angkot. Tapi sebelum itu kita pamitan lagi sama Pak dan Bu Kesmi, sekalian foto-foto sama beliau. Kita baris sambil salim satu persatu, udah kayak sungkeman orang nikah -___-

Bapak dan Ibu Kesmi
Sebelum pulang, ibu ngasih kenang-kenangan bros ke aku sama Nia. Kata Ibu, "ini ada bros dari Rinka. Rinka malu mau ngasih ke kalian" Duuuuh dek Rinkaaa, makasih banyak loooh, maaf kita nggak ngasih apa-apa :( Kalo dikasih Risky aja gimana dek, mau? :D *langsung dimasukin mesin cuci sama Risky*


Dan akhirnya kita meninggalkan rumah Pak Kesmi, rumah yang selama 10 hari ini udah kita anggep layaknya rumah sendiri. Rumah yang mempertemukan kami dengan keluarga sebaik keluarganya Pak Kesmi :'

***

Kami naik ke dalam angkot dan bergerak menuju Masjid Istiqlal, di depan "Plaza" Bandar Jaya. Tapi sebelum itu kita jemput tim HART dulu.

Sampai di masjid Istiqlal, kita ketemu sama anak 53 area Lamteng lainnya dengan kulit bukan sawo mateng lagi tapi udah kayak biji sawo. Oh ternyata bukan kita doang yang gosong, syukurlah hahaha.

Setelah solat Ashar, kita naik ke bis masing-masing dan siap melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan. Detik itu juga, semua cerita kita tentang Lampung Tengah usai ditutup dan bersiap kembali menuju realita : KULIAH. Oh my God why... jangan ingatkan saya tentang itu.

Selama perjalanan, aku sama Nia nggak ada henti-hentinya bilang "kampret" begitu nglewatin salah satu jalan raya di Bandar Lampung yang gemerlap fasilitas ala kota banget, di sepinggir jalan berjejer Mall, KFC, Pizza Hut, dll. Bedaaaaaaa banget sama pemandangan di Lampung Tengah yang mau ke alfamart aja harus lompat ke kecamatan sebelah :/

Sebelum ke pelabuhan, kita mampir dulu ke pusat oleh-oleh Yen-Yen. Disitu udah kayak orang kalap borong keripik pisang banyak banget. Dijual lagi bisa kali ya :p


Sampai di pelabuhan, kita naik kapal dengan interior yang berbeda dengan kapal saat kita menuju Lampung dulu. Kita naik ke deck 7 yang bentuknya udah macem kayak di cafe. Disana, lagi-lagi kita nonton chibi maruko chan! Ampuuuun, mau diulang berapa kali pun tetep nggak pernah bosen kalo nonton film ini. Tapi entah ya, mungkin beda kesan kalo nontonnya bukan sama tim 46, mungkin. who knows..

Bersambung...

L's

0 komentar:

Poskan Komentar