Outbound -hari keempat-

Posted by Leila Husna On Selasa, 04 Oktober 2011 0 komentar

Hari keempat alias hari terakhir di Rindam Jaya alias hari pemberangkatan ke Gunung Bunder, Bogor. Sebelum berangkat, kami masih melakukan aktivitas rutin (lari, apel, makan, dll), melakukan PBB, dan mencoba medan halang rintang lainnya. Di permainan halang rintang kali ini ada beberapa anak yang kejebur di kolam yang airnya udah lumutan. Salah satunya si emm aku lupa namanya, sebut aja si X. Nah halang rintangnya itu berupa kolam yang lumayan besar, dan di atasnya ada beberapa tali yang digantung. Jadi kita harus menyebrang kolam menggunakan tali. Awalnya kita lari dulu, setelah itu lompat dan meraih tali, lalu bergelantungan dan berayun melewati kolam seperti tarzan. Ada bayangan? nggak ada ya? haha ya udah lah. Nah si X ini awalnya udah lari dan fokus pada tali yang dituju yaitu tali yang di tengah. Entah kenapa tiba-tiba dia berubah haluan ke tali yang di pojok kiri, alhasil nggak nyampe lah dia dan kejebur ke kolam haha, kasian juga sih, tapi geli liatnya hihihi.

Nah siangnya, setelah makan siang, kami berangkat ke Bogor. Dan lagi-lagi aku dapat jatah naik bis tentara. Di perjalanan sempet hujan deres, bersyukur karena udah lama nggak liat hujan sederes itu, tapi cukup apes juga sih soalnya atap bisnya bocor, alhasil kami harus mengamankan barang-barang kami dari area tetesan air hujan. Bahkan sebelahku yang duduknya deket pintu sampe pake jas hujan karena hujannya masuk lewat celah-celah pintu (padahal pintunya udah ditutup lho). Untungnya hujannya nggak berlangsung lama.

Malamnya, entah jam berapa (kita nggak boleh bawa hape dan jam), yang aku tahu pokoknya gelap aja gitu, entah masih magrib atau udah malam pun aku juga nggak tau, pokoknya pas gelap-gelap gitu kami sampai di Gunung Bunder. Hawa dingin langsung kerasa. Jalanan menuju barak curam banget dan itu nyusahin, udah curam, gelap pula. Kami cuma bermodal senter kecil. Tas yang kami bawa juga berat dan itu semakin memberatkan langkah kami, takut tergelincir gitu.

Begitu sampai barak, nggak ada kasur, nggak ada lemari, nggak ada bantal. Yang ada cuma papan panjang, mirip meja tapi panjang banget dan itu pula yang menjadi alas tidur kami. Tersedia juga sleeping-bag bercorak tentara sebagai penghangat tidur. Pake sleeping bag berasa jadi lontong wkwk :p

to be continued...

0 komentar:

Poskan Komentar