Refleksi

Posted by Leila Husna On Jumat, 17 Desember 2010 0 komentar

Aku geli sendiri setiap kali flash back dan membandingkan betapa konyolnya ekspresi mukaku pra-social care dan pasca-social care.
Aku masih inget speechless-nya aku saat aku dengar "ini panti penampungan orang gila"
Aku juga inget saat kami berenam tiba-tiba diam serentak dan nggak seheboh biasanya.
Aku juga inget Nia Alfa lemes banget begitu sampe sana.
Aku juga inget betapa shock-nya aku liat "eek" di hari survey.
Aku juga inget betapa speechless-nya aku saat denger "nanti kalian disini mandiin orang gila".
Aku juga inget saat kita misuh-misuh di mobil Lutep setiap berangkat dan pulang soscare
Aku juga inget saat hari pertama soscare ada orang gila keluar dari sel cowok lalu lari ke arah kami, aku lari ketakutan, tiba-tiba Nia Alfa bilang "Kamu nangis? Nggak papa Lei, jangan nangis"
Aku juga inget saat pertama kali mandiin orang gila kami malah bengong shock dan bingung mau ngapain dan akhirnya kita hanya berdiri kayak patung dan sepertinya malah menuh-menuhin tempat.
Aku juga inget saat aku ngumpet di belakang temen-temen setiap kali mata Nasrun gerilya ngliatin mulu
Aku juga inget seberapa keras teriakanku saat 2 orang gila (Nasrun dan bapak-bapak) njawil dan megang aku dan mereka dalam keadaan telanjang.
Aku juga inget betapa hebohnya aku saat aku kepleset di lantai yang penuh pipis

Ya, aku ingat betapa konyolnya mukaku ehm mungkin lebih tepatnya muka kami semua saat itu. Takut memang iya, tapi tertawa pun juga iya.
Aku ingat saat kita tertawa melihat bermacam-macam sifat, mulai dari orang paling stylish yang akhirnya kita panggil "mas bro", melihat Pa'i makan pace, melihat pak Suryono kumis dan dagunya putih semua gara-gara makan sukun mentah yang banyak getahnya.
Aku juga ingat saat kita menari dan menyanyi heboh di tengah aula sedangkan para kelayan hanya bengong saja ngliatin kami dan kami jadi berasa ngajak nyanyi patung.
Aku juga ingat betapa takjubnya kami melihat orang-orang gila yang pintar disana
Aku juga ingat saat Boni cerita, aku tidak pernah bosan mendengar ceritanya
Aku juga ingat banyak sekali dialog konyol para kelayan yang unreal dan terlalu polos. Dan itu sukses bikin aku sakit perut gara-gara nggak bisa nahan ketawa.
Aku juga ingat saat kita bingung mau beli hadiah apa untuk lomba dan tiba-tiba pengurus panti bilang "permen aja mereka udah seneng banget" dan ternyata bener, sebuah permen mampu membangkitkan antusias kelayan muda maupun tua.
Aku juga ingat saat Pa'i pantang menyerah masukin benang ke sedotan dan nggak mau duduk ke tempat semula sebelum berhasil masukin benang, bahkan saat kita bilang "udah aja, ni lho tak kasih permen" dia tetep nggak mau " kosek tho. Iki lho angel".  Dan mungkin kalo nggak kita bohongi dia nggak akan selesei-selesei "udah thu lho udah masuk" "durung!" "udah Pa'i, sana duduk" dan Pa'i hanya bengong bingung lalu duduk.
Aku juga ingat ekspresi senang mereka terutama ekspresinya Sipon saat menang lomba, bahkan mereka sampai melupakan permen (hadiah yang paling ditunggu-tunggu) dan sibuk lonjak-lonjak kesenengan.
Aku juga inget saat selesei sholat di rumah Ikha, tiba-tiba adiknya Ikha nyanyi "disini senang, disana senang.." aku dan Nia Beta langung mlinguk spontan lalu berpandangan dan tiba-tiba kami ketawa. (ya, itu lagu yang berulang kali kita nyanyiin di aula sambil joget-joget sama para kelayan)

Dan ingatanku kembali lagi di hari ini, saat aku sudah terbebas dari yang namanya socare. Tapi hari ini aku masih kesana, bukan untuk memandikan, nyanyi bareng, atau memberi makan, tetapi hanya untuk sekedar minta tanda tangan pengurus sambil ngobrol bentar sama kelayan dan anak SMK 8. 

Aku inget saat kita kesana disambut sama anak-anak SMK 8
Aku juga inget saat Susi senyum-senyum ke kita, maju mundur mau ndeket ke kita tapi ragu. Dan setelah beberapa meenit tiba-tiba Susi ndeket dan bilang "mbaknya sing wingi ya?" (re : mbaknya yang kemarin ya?) lalu dia megang-megang tangan Nia kayak pangling sama kita dan kita juga sama sekali nggak takut, kita justru seneng ternyata mereka 'ngeh' waktu kita bilang "kita pamit yaa, besok nggak ada kita lagi disini" jadi waktu Susi liat kita dia bingung karna kita muncul lagi. Seneng banget ternyata dia nyadar dan inget sama kita. Diinget sama orang normal itu biasa, tapi kalo diinget sama orang gila itu luar biasa :D
Aku juga inget saat Nasrun keluar dari ruang kesenian, dia tengak tengok liat kanan kiri bolak balik keluar masuk liat kanan kiri lagi dan YES! dia nggak ngenalin aku, bahkan dia sama sekali nggak nyadar ada aku disitu :))))
Aku juga inget saat Boni keluar dari pintu kesenian dan kita langsung teriak "BONI!!!!" lalu dia melambaikan tangannya dengan wajah tanpa ekspresi dan suwung kayak kemarin :o

Dan ekspresi kami kali ini jauh sangat berbeda, meski kita sama-sama pake baju bebas, sama-sama dateng bukan dalam jadwal social care (dulu survey, sekarang minta tanda tangan) tapi respon kita beda banget. Nggak takut tapi malah seneng, nggak jengkel dan misuh-misuh tapi malah kangen, nggak ngerasa paling sial tapi malah ngerasa beruntung. Intinya kita bersyukur banget sama Allah, sama sekolah, yang udah ngasih tempat "spesial" buat soscare kita kali ini. Dan buat kalian, kelompok yang minta ganti tempat soscare dari panti karya ke panti lain, aku cuma pengen bilang kalian RUGI! Di panti asuhan kalian bisa ngatasi anak kecil normal, di panti jompo kalian bisa ngatasi orang tua normal, tapi disini kalian bakal ngatasi dari anak kecil sampe mbah-mbah tua, tapi bedanya mereka semua nggak normal. Jadi kalo kalian udah bisa ngatasi orang-orang nggak normal, insyaAllah kalian juga bakal bisa ngatasi orang-orang normal. Kalian rugi cerita, pengalaman, dan of course kalian rugi nggak pernah masuk ke dunia "mereka". But it's OK, itu pilihan kalian kan? Aku yakin kalian pasti tau mana yang terbaik buat kalian :) Dan buat yang kloter kedua, jangan pernah sia-siain kesempatan soscare ini, nggak usah jutek sama anak SMK 8, kalo ada yang ngomongnya nggak enak didenger ya anggep aja masuk kuping kanan keluar kuping kiri, kalo mau misuh-misuh jangan pas di panti tapi di dalem mobil aja (nah lo?? hahaha), kalo takut nggak papa wajar kok, tapi jangan sampe nyinggung orang panti, dan kalo ada yang jail dibentak aja, kalo nggak bisa ya cuekin aja, cari temen yang bisa nglindungin kalian kalo lagi digodain orang gila. I think that's all, thanks for your attention (lhoh?? emangnya presentasi -,-)


My mom said "Ibu seneng kamu social care di panti karya. Kamu jadi bisa liat ternyata di luar duniamu dan teman-temanmu ada dunianya orang-orang yang kurang beruntung kayak mereka. Kamu jadi bisa bersyukur kamu lahir normal, punya teman dan keluarga normal. Takdir itu nggak bisa dipilih, kalo takdir bisa dipilih pasti semua bayi yang lahir minta ditakdirin jadi anak raja atau jadi anak presiden yang hidupnya serba kecukupan, tapi mereka nggak bisa milih, mereka sebenernya juga nggak mau hidup jadi orang gila, tapi itulah takdir. Ini hanya refleksi untuk kamu agar kamu jadi golongan orang-orang yang bersyukur"

0 komentar:

Poskan Komentar